SDIT ASSALAM CURUG

Mendidik dengan hati, mengabdi penuh harmoni

Rihlah Guru SDIT Assalam 2026

Rihlah Guru SDIT Assalam 2026

 


“Warm Heart, Cold Bromo”

22–27 Juni 2026

"Maka berjalanlah di muka bumi, lalu perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan." (QS. Al-Ankabut: 20)

Rihlah bukan sekadar perjalanan wisata. Bagi keluarga besar SDIT Assalam, rihlah adalah momentum untuk mentadabburi ciptaan Allah, mempererat ukhuwah, sekaligus mengisi kembali energi ruhiyah dan jasadiyah sebelum kembali mengemban amanah mendidik generasi.

Tahun 2026 menjadi perjalanan Rihlah Guru SDIT Assalam yang kelima, sekaligus perjalanan terjauh yang pernah dilaksanakan. Selama enam hari, rombongan menjelajahi keindahan Bromo, Malang, Madura, hingga Yogyakarta dengan membawa satu tujuan: pulang dengan hati yang lebih kuat dan jiwa yang lebih bertakwa.

Mengawali Perjalanan Penuh Harapan

Perjalanan dimulai pada Senin malam, 22 Juni 2026 pukul 21.45 WIB menggunakan Bus Komara dari kawasan Pabrik Permen. Perjalanan panjang menuju Jawa Timur ditempuh dengan penuh semangat dan kebersamaan.

Pagi harinya rombongan beristirahat untuk sarapan di Rumah Makan Sugeng Rawuh, Kendal, Jawa Timur. Di tengah perjalanan, seluruh peserta juga menunaikan shalat jamak takdim di Masjid Kurnia, Ngawi, sebagai bentuk ikhtiar menjaga ibadah di sela perjalanan.

Setelah hampir 20 jam perjalanan, rombongan akhirnya tiba di Villa Sinar Harapan pada pukul 17.50 WIB. Waktu istirahat dimanfaatkan untuk mempersiapkan tenaga menyambut agenda utama keesokan dini hari: menikmati matahari terbit di Gunung Bromo.

Menyaksikan Kebesaran Allah di Puncak Bromo

Pukul 03.00 dini hari, rombongan berangkat menggunakan enam mobil Hartop menuju Seruni Point. Udara yang sangat dingin, jalan yang menanjak, serta minimnya penerangan tidak menyurutkan langkah para guru menuju puncak.

Sesampainya di atas, hamparan pegunungan yang diselimuti kabut dan cahaya matahari perlahan muncul menghadirkan panorama yang begitu memukau. Keindahan itu menjadi pengingat betapa agungnya ciptaan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Di tempat itulah Kepala SDIT Assalam, Ahmad Buhari, M.Pd., menyampaikan nasihat yang begitu mendalam.

Beliau mengingatkan bahwa tujuan datang ke Bromo bukanlah sekadar menikmati keindahan alam atau mencari euforia. Allah memerintahkan manusia untuk memperhatikan ciptaan-Nya sebagai jalan menuju keimanan. Gunung-gunung yang kokoh, langit yang tinggi, serta seluruh keindahan alam merupakan tanda kebesaran-Nya.

Semoga setiap pandangan yang tertuju kepada ciptaan Allah semakin menguatkan keyakinan bahwa Dialah Sang Pencipta Yang Maha Agung.

Usai menikmati panorama matahari terbit, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Savana Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Di sana peserta menikmati sarapan dengan latar hamparan bukit hijau yang begitu memanjakan mata sebelum kembali ke villa untuk beristirahat.



Kebersamaan yang Menguatkan Hati

Perjalanan berlanjut menuju Kota Malang. Meskipun agenda memetik buah tidak terlaksana sesuai rencana, rombongan tetap menikmati wisata belanja oleh-oleh di Strudel Malang.

Malam harinya menjadi salah satu momen paling berkesan selama rihlah. Bertempat di penginapan Sinar Indah, seluruh guru berkumpul dalam suasana penuh kehangatan. Tawa pecah saat saling bertukar kado dan membaca surat cinta persahabatan yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Namun di balik tawa itu, terselip haru karena malam tersebut juga menjadi momen perpisahan dengan Bu Salsabila, guru SDIT Assalam yang telah mengabdi selama empat tahun (2022–2026). Beliau akan mengikuti suaminya menetap di Cirebon. Sebagai bentuk apresiasi, sekolah memberikan kenang-kenangan serta ucapan terima kasih atas dedikasi yang telah diberikan.

Pada kesempatan yang sama diumumkan pula dua penghargaan Guru Teladan Tahun Ajaran 2025/2026.

Penghargaan Guru Paling Berdampak terhadap Perilaku dan Adab Murid diberikan kepada Pak Fahrizal Mardiansyah, sedangkan penghargaan Guru Paling Disiplin karena tidak pernah terlambat selama satu tahun pelajaran diberikan kepada Ibu Futri Aysah.

Mengingat Akhir Kehidupan di Makam Ulama

Pagi berikutnya, setelah shalat Subuh berjamaah, rombongan melanjutkan perjalanan menuju makam Syaichona Muhammad Cholil Bangkalan.

Ziarah tersebut bukan sekadar mengenang sosok ulama besar Nusantara, tetapi menjadi pengingat bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Allah.

Dalam tausiyahnya, Kepala SDIT Assalam menyampaikan bahwa banyaknya orang yang terus mendoakan Syaichona Muhammad Cholil menjadi bukti bahwa orang-orang yang menghabiskan hidupnya di jalan Allah akan tetap dikenang melalui amal salehnya.

Semoga semangat dakwah, ilmu, dan keikhlasan beliau mampu menginspirasi seluruh guru untuk terus menebarkan manfaat sepanjang hayat.



Belajar Makna Hijrah di Kota Yogyakarta

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Yogyakarta. Rombongan tiba di Hotel Bhineka setelah terlebih dahulu menikmati makan siang di Rumah Makan Lombok Ijo.

Malam itu bertepatan dengan tanggal 10 Muharram. Seusai shalat Maghrib berjamaah, Pak Ahmad Buhari kembali menyampaikan tausiyah mengenai makna hijrah Rasulullah ï·º.

Beliau menjelaskan bahwa penetapan kalender Islam dimulai dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad ï·º ke Madinah, bukan dari kelahiran ataupun wafat beliau. Sebab hijrah bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan simbol perjuangan, ikhtiar, dan pengorbanan.

Hijrah mengajarkan bahwa ketakwaan harus berjalan beriringan dengan doa dan usaha. Tidak cukup hanya berikhtiar tanpa tawakal, dan tidak cukup pula hanya berdoa tanpa bekerja keras.

Beliau juga merangkum empat pelajaran besar dari hijrah Rasulullah ï·º:

  1. Membangun masjid sebagai pusat peradaban.

  2. Mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar.

  3. Menyusun Piagam Madinah sebagai dasar kehidupan bermasyarakat.

  4. Membangun pasar sebagai fondasi kemandirian ekonomi umat.

Nasihat tersebut menjadi penyemangat bagi seluruh guru agar terus memberikan kontribusi terbaik bagi dunia pendidikan, khususnya di SDIT Assalam.



Menutup Perjalanan dengan Semangat Baru

Malam terakhir dimanfaatkan untuk menikmati suasana Malioboro yang selalu hidup dengan beragam budaya dan produk khas Yogyakarta.

Keesokan paginya, seluruh peserta kembali memulai hari dengan shalat Subuh berjamaah dan dzikir pagi. Menariknya, sebelum melanjutkan perjalanan pulang, rombongan mengikuti senam bersama yang dipimpin oleh Coach M. Asro, Komite SDIT Assalam sekaligus instruktur Senam KSN.

Tidak hanya rombongan SDIT Assalam, para tamu hotel lainnya pun ikut bergabung. Momen sederhana ini menjadi bukti bahwa berbagi manfaat tidak mengenal tempat. Di mana pun berada, guru tetap mampu mengajak orang lain menuju gaya hidup yang sehat dan positif.

Setelah sarapan, rombongan menikmati sejenak keindahan Kota Yogyakarta sebelum akhirnya bertolak kembali menuju Tangerang pada pukul 12.30 WIB.

Alhamdulillah, seluruh peserta tiba dengan selamat pada Sabtu dini hari, 27 Juni 2026 pukul 01.30 WIB di kediaman Ibu Hj. Salbiah, Ketua Yayasan Assalam.

Rihlah yang Menguatkan Langkah

Enam hari perjalanan telah usai. Namun sejatinya, yang dibawa pulang bukan hanya oleh-oleh atau foto-foto indah, melainkan hati yang lebih dekat kepada Allah, ukhuwah yang semakin erat, serta semangat baru untuk kembali mengabdi.

Semoga Rihlah Guru SDIT Assalam 2026 menjadi bekal berharga dalam melahirkan pendidik yang bukan hanya cerdas, tetapi juga beriman, berakhlak, dan senantiasa menginspirasi.

"Berjalan melihat keindahan alam akan berakhir ketika perjalanan selesai. Namun berjalan untuk mengenal kebesaran Allah akan terus hidup sepanjang usia."









Tidak ada komentar:

Posting Komentar